Boston Tea Party

Boston Tea Party 16 Desember 1773, Ketika Teh Memicu Peperangan

Boston Tea Party

Apakah kalian pernah mendengar peristiwa revolusi Amerika yang bernama Boston Tea Party? 248 tahun silam, puluhan orang yang berpakaian ala suku Indian menyerang kapal-kapal milik Inggris di Pelabuhan Boston, Amerika Serikat. Pelaku banyak yang tergabung dalam organisasi rahasia Sons of Liberty. Mereka membuang ratusan peti kayu dari atas kapal sebagai bentuk protes terhadap monopoli serta penetapan pajak tinggi.

Peristiwa yang dikenang sebagai Boston Tea Party itu berujung dengan kemerdekaan Amerika Serikat pada tiga tahun setelahnya. Akar persoalannya bisa dilacak pada obsesi warga Inggris terhadap komoditi dalam peti yang ramai-ramai dibuang ke laut itu: daun Camellia sinensis, alias teh. Markman Ellis dan kawan-kawan dalam bukunya Empire of Tea: The Asian Leaf that Conquered the World (2015) mencatat bahwa orang Eropa mula-mula mencicipi teh pada abad ke-17. Jauh sebelum terjadinya revolusi pemilu di Amerika Serikat, masih ada banyak konflik terjadi saat AS ingin merdeka dari kerajaan Inggris.

Di Britania Raya, trennya meledak mulai abad ke-18. Sejak saat itu pula Inggris menjadi salah satu negara peminum teh terbesar di dunia. Rata-ratanya menempuh 1,9 kg per kapita. Markman menegaskan, teh tak akan populer di Inggris kalau tak terjadi peningkatan pasokan yang membuatnya lebih mudah diakses. Inggris mengandalkan produksinya dari wilayah koloni seperti Cina dan India. Kesibukan mengimpor teh dijalankan oleh korporasi bernama British East India Company.

Awal Mula Peristiwa Boston Tea Party Pada 16 Desember 1773

Boston Tea Party

Pada awal hingga pertengahan 1700-an, kesibukan impor mereka tercatat mengalami peningkatan hingga empat kali lipat. Pada satu titik, Parlemen Inggris malah hingga melarang impor tekstil siap gunakan dari Asia supaya bisa fokus mengimpor teh. Kebijakan ini lambat laun mengganti tren mengonsumsi kopi yang harganya kian mahal, sementara harga teh makin terjangkau lebih-lebih pada era 1750-an.

Konsumsi teh berkembang di kalangan kelas menengah Inggris setelah inovasi gula. Tak lama setelahnya, meminum teh menjadi semacam kesibukan khusus yang terasa elite, malah patriotik. Problem muncul saat konsumsi teh mulai meningkat di wilayah koloni, yaitu ditandai dengan kemunculan korporasi-korporasi pesaing East India Company.

Sebagian korporasi asal Belanda dikenal memasarkan teh selundupan ke Eropa maupun Amerika dengan harga jauh lebih murah. Pengepul maupun pedagang lebih suka transaksi dengan mereka, dan otomatis mengganggu dominasi Inggris. Untuk menjaga praktik monopolinya, pada tahun 1721 Parlemen Inggris mensahkan undang-undang yang memegang jual beli teh di wilayah koloni hanya boleh dijalankan melewati barang impor dari Britania Raya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *